Bekisting merupakan salah satu komponen penting dalam pekerjaan struktur beton bertulang. Bekisting berfungsi sebagai cetakan sementara yang membentuk beton sesuai ukuran, posisi, dan desain yang telah direncanakan. Tanpa bekisting yang baik, bentuk beton dapat berubah, permukaannya tidak rata, atau bahkan mengalami kegagalan selama proses pengecoran.
Dalam penyusunan rencana anggaran biaya, kebutuhan bekisting harus dihitung secara tepat. Kesalahan perhitungan dapat menyebabkan kekurangan material, pemborosan papan atau multipleks, serta meningkatnya biaya tenaga kerja. Oleh karena itu, kita perlu memahami cara menghitung volume bekisting untuk setiap elemen struktur, seperti pondasi, sloof, kolom, balok, pelat lantai, dan tangga.
Walaupun sering disebut sebagai “volume bekisting”, satuan yang digunakan dalam perhitungan bekisting sebenarnya adalah meter persegi atau m², bukan meter kubik atau m³. Hal ini karena yang dihitung adalah luas permukaan beton yang bersentuhan langsung dengan bekisting. Istilah volume bekisting tetap sering digunakan dalam pekerjaan konstruksi karena merujuk pada jumlah keseluruhan pekerjaan bekisting.

Pengertian Bekisting
Bekisting adalah konstruksi sementara yang digunakan untuk menahan beton segar sampai beton tersebut mengeras dan mampu menopang bebannya sendiri. Bekisting harus dibuat dengan ukuran yang sesuai gambar kerja agar dimensi struktur beton tidak berubah.
Material yang umum digunakan untuk membuat bekisting antara lain papan kayu, multipleks, balok kayu, baja, aluminium, plastik, dan sistem bekisting modular. Pada proyek rumah tinggal, bekisting kayu dan multipleks masih banyak digunakan karena mudah diperoleh dan mudah dibentuk.
Bekisting yang baik harus memenuhi beberapa persyaratan. Bekisting harus cukup kuat menahan berat beton segar, tulangan, pekerja, dan peralatan pengecoran. Sambungan bekisting juga harus rapat agar air semen tidak keluar. Selain itu, bekisting harus mudah dibongkar tanpa merusak permukaan beton.
Mengapa Perhitungan Bekisting Menggunakan Satuan Meter Persegi?
Beton dihitung berdasarkan volumenya dalam satuan meter kubik. Namun, bekisting tidak mengisi ruang beton. Bekisting hanya menutup atau membatasi sisi-sisi tertentu dari elemen beton. Oleh karena itu, kebutuhan bekisting dihitung berdasarkan luas permukaan yang dicetak.
Sebagai contoh, sebuah kolom memiliki empat sisi yang harus ditutup dengan bekisting. Luas keempat sisi tersebut kemudian dikalikan dengan tinggi kolom. Hasil perhitungan dinyatakan dalam meter persegi.
Secara umum, rumus dasar perhitungan bekisting adalah:
Luas bekisting = panjang bidang × tinggi atau lebar bidang
Jika suatu elemen memiliki beberapa sisi yang dicetak, luas seluruh sisi tersebut harus dijumlahkan. Kita juga perlu memperhatikan bagian yang tidak membutuhkan bekisting, misalnya bagian bawah pondasi yang langsung berhubungan dengan lantai kerja atau tanah.
Data yang Dibutuhkan untuk Menghitung Bekisting
Sebelum melakukan perhitungan, kita harus menyiapkan beberapa data dari gambar kerja. Data tersebut meliputi panjang, lebar, tinggi, tebal, jumlah elemen, dan sisi yang menggunakan bekisting.
Gunakan satuan meter agar hasil akhir langsung diperoleh dalam meter persegi. Ukuran yang masih menggunakan sentimeter harus diubah terlebih dahulu. Sebagai contoh, ukuran 20 cm diubah menjadi 0,20 meter, sedangkan 40 cm menjadi 0,40 meter.
Selain ukuran struktur, kita perlu mengetahui metode pelaksanaan. Beberapa bagian beton mungkin tidak memerlukan bekisting karena bersentuhan langsung dengan tanah atau lantai kerja. Kondisi ini akan memengaruhi jumlah sisi yang dihitung.
Cara Menghitung Bekisting Pondasi Telapak
Pondasi telapak atau foot plate biasanya berbentuk persegi maupun persegi panjang. Bekisting umumnya dipasang pada empat sisi tegak pondasi. Bagian bawah pondasi tidak dihitung karena berada di atas lantai kerja, sedangkan bagian atas dibiarkan terbuka untuk pengecoran.
Rumusnya adalah:
Luas bekisting pondasi = keliling pondasi × tinggi pondasi × jumlah pondasi
Misalnya, terdapat 6 pondasi telapak berukuran 1,20 meter × 1,20 meter dengan tebal atau tinggi 0,30 meter.
Keliling satu pondasi:
= 4 × 1,20
= 4,80 meter
Luas bekisting satu pondasi:
= 4,80 × 0,30
= 1,44 m²
Luas bekisting untuk 6 pondasi:
= 1,44 × 6
= 8,64 m²
Dengan demikian, total kebutuhan bekisting pondasi telapak adalah 8,64 m².
Apabila pondasi berbentuk persegi panjang, kelilingnya dihitung menggunakan rumus 2 × panjang ditambah 2 × lebar.
Cara Menghitung Bekisting Sloof
Sloof merupakan balok beton bertulang yang biasanya berada di atas pondasi. Dalam pekerjaan sloof, bekisting dapat dipasang pada dua sisi samping dan satu sisi bawah. Namun, apabila bagian bawah sloof langsung berada di atas pasangan batu atau lantai kerja, bagian bawah tersebut tidak selalu membutuhkan bekisting.
Rumus bekisting sloof tiga sisi adalah:
Luas bekisting sloof = panjang sloof × (2 × tinggi sloof + lebar sloof)
Misalnya, sloof memiliki panjang total 40 meter, lebar 0,15 meter, dan tinggi 0,20 meter.
Luas dua sisi samping:
= 2 × 40 × 0,20
= 16 m²
Luas sisi bawah:
= 40 × 0,15
= 6 m²
Total luas bekisting:
= 16 + 6
= 22 m²
Jadi, kebutuhan bekisting sloof adalah 22 m².
Apabila sisi bawah sloof tidak menggunakan bekisting, perhitungannya hanya mencakup dua sisi samping:
= 2 × 40 × 0,20
= 16 m²
Perbedaan metode pelaksanaan tersebut harus diperiksa dari gambar dan kondisi lapangan.
Cara Menghitung Bekisting Kolom
Kolom umumnya memerlukan bekisting pada seluruh sisi vertikal. Untuk kolom berbentuk persegi atau persegi panjang, luas bekisting dihitung dengan mengalikan keliling kolom dengan tinggi kolom.
Rumusnya adalah:
Luas bekisting kolom = keliling kolom × tinggi kolom × jumlah kolom
Misalnya, terdapat 10 kolom berukuran 0,20 meter × 0,30 meter dengan tinggi 3,50 meter.
Keliling satu kolom:
= 2 × (0,20 + 0,30)
= 1 meter
Luas bekisting satu kolom:
= 1 × 3,50
= 3,50 m²
Luas bekisting untuk 10 kolom:
= 3,50 × 10
= 35 m²
Dengan demikian, total bekisting kolom adalah 35 m².
Untuk kolom berbentuk lingkaran, luas bekisting dapat dihitung menggunakan keliling lingkaran dikalikan tinggi kolom. Keliling lingkaran diperoleh dari π × diameter.
Cara Menghitung Bekisting Balok
Balok beton biasanya membutuhkan bekisting pada dua sisi samping dan satu sisi bawah. Bagian atas balok tidak menggunakan bekisting karena menjadi tempat masuknya beton saat pengecoran.
Rumus bekisting balok adalah:
Luas bekisting balok = panjang balok × (2 × tinggi balok + lebar balok)
Misalnya, balok memiliki panjang total 30 meter, lebar 0,20 meter, dan tinggi 0,40 meter.
Luas dua sisi balok:
= 2 × 30 × 0,40
= 24 m²
Luas sisi bawah:
= 30 × 0,20
= 6 m²
Total luas bekisting balok:
= 24 + 6
= 30 m²
Jadi, kebutuhan bekisting balok adalah 30 m².
Dalam praktiknya, tinggi sisi bekisting balok terkadang dikurangi tebal pelat lantai. Hal ini terjadi apabila balok dan pelat dicor secara bersamaan. Misalnya, tinggi balok 40 cm dan tebal pelat 12 cm, maka tinggi sisi balok yang terlihat di bawah pelat hanya 28 cm. Cara perhitungan harus disesuaikan dengan metode pengukuran yang digunakan dalam analisis harga dan gambar kerja.
Cara Menghitung Bekisting Pelat Lantai
Pelat lantai memerlukan bekisting pada bagian bawahnya. Bekisting pelat berfungsi menahan beton segar sebelum beton mengeras. Luas bekisting pelat dihitung berdasarkan luas bidang bawah pelat.
Rumus dasarnya adalah:
Luas bekisting pelat = panjang pelat × lebar pelat
Misalnya, sebuah pelat lantai memiliki panjang 8 meter dan lebar 6 meter.
Luas bekisting pelat:
= 8 × 6
= 48 m²
Jadi, kebutuhan bekisting bagian bawah pelat adalah 48 m².
Namun, luas tersebut mungkin perlu dikurangi apabila terdapat lubang tangga, void, lubang lift, atau bukaan lainnya. Sebagai contoh, jika terdapat void berukuran 2 meter × 1,50 meter, luas void adalah 3 m².
Luas bersih bekisting pelat:
= 48 − 3
= 45 m²
Sisi tepi pelat juga dapat dihitung sebagai bekisting tambahan. Rumus bekisting tepi pelat adalah keliling pelat dikalikan tebal pelat.
Cara Menghitung Bekisting Dinding Beton
Dinding beton bertulang biasanya membutuhkan bekisting pada dua sisi. Luas bekisting dihitung dari panjang dinding, tinggi dinding, dan jumlah sisi yang dicetak.
Rumusnya adalah:
Luas bekisting dinding = panjang dinding × tinggi dinding × jumlah sisi
Misalnya, dinding beton memiliki panjang 12 meter dan tinggi 3 meter. Bekisting dipasang pada dua sisi.
Luas bekisting:
= 12 × 3 × 2
= 72 m²
Jika hanya satu sisi yang membutuhkan bekisting, hasilnya menjadi 36 m². Kondisi satu sisi dapat terjadi ketika beton dicor menempel pada permukaan tertentu yang telah disiapkan sebagai pembatas.
Dalam perhitungan dinding beton, luas bukaan pintu dan jendela biasanya dikurangi dari luas total. Namun, sisi bagian dalam bukaan tetap dapat memerlukan bekisting sehingga harus dihitung secara terpisah.
Cara Menghitung Bekisting Tangga
Perhitungan bekisting tangga lebih kompleks karena terdiri atas pelat miring, bordes, serta bagian tegak anak tangga. Bagian utama yang dihitung adalah luas bawah pelat tangga.
Panjang miring tangga dapat dihitung menggunakan teori Pythagoras:
Panjang miring = √(panjang mendatar² + tinggi tangga²)
Misalnya, tangga memiliki panjang mendatar 3 meter, tinggi 2,40 meter, dan lebar 1 meter.
Panjang miring:
= √(3² + 2,40²)
= √(9 + 5,76)
= √14,76
= 3,84 meter
Luas bekisting bawah tangga:
= 3,84 × 1
= 3,84 m²
Selanjutnya, bekisting bordes dihitung menggunakan rumus panjang × lebar. Bekisting sisi tangga dan bagian tegak anak tangga dapat ditambahkan apabila masuk dalam metode pengukuran pekerjaan.
Karena bentuk tangga dapat berbeda-beda, perhitungannya sebaiknya dipisahkan menjadi beberapa bidang agar lebih mudah diperiksa.
Menghitung Kebutuhan Material Bekisting
Setelah mengetahui luas bekisting, kita dapat memperkirakan jumlah lembar multipleks yang dibutuhkan. Multipleks standar umumnya berukuran 1,22 meter × 2,44 meter.
Luas satu lembar multipleks:
= 1,22 × 2,44
= 2,9768 m²
Angka tersebut dapat dibulatkan menjadi sekitar 2,98 m² per lembar.
Misalnya, total luas bekisting adalah 100 m².
Jumlah kebutuhan teoritis:
= 100 ÷ 2,98
= 33,56 lembar
Jumlah tersebut dibulatkan menjadi 34 lembar. Akan tetapi, kebutuhan nyata perlu ditambah faktor kehilangan akibat pemotongan, kerusakan, sambungan, dan bentuk struktur. Faktor tambahan biasanya berkisar antara 5% sampai 10%, tergantung kerumitan pekerjaan.
Jika digunakan tambahan 10%:
= 34 × 110%
= 37,4 lembar
Kebutuhan dapat dibulatkan menjadi 38 lembar multipleks.
Perhitungan ini belum mempertimbangkan pemakaian ulang. Multipleks yang masih dalam kondisi baik dapat digunakan beberapa kali. Semakin tinggi frekuensi penggunaan ulang, semakin sedikit jumlah material baru yang perlu disediakan.
Faktor yang Memengaruhi Kebutuhan Bekisting
Kebutuhan bekisting tidak hanya dipengaruhi oleh luas struktur. Bentuk bangunan, jenis material, kualitas pekerjaan, dan metode pelaksanaan juga berpengaruh.
Struktur yang memiliki banyak sudut, perbedaan elevasi, atau bentuk melengkung akan menghasilkan lebih banyak sisa potongan. Sebaliknya, bentuk struktur yang seragam memungkinkan material digunakan dengan lebih efisien.
Kualitas material juga menentukan jumlah pemakaian ulang. Multipleks berkualitas baik dapat digunakan beberapa kali apabila pembongkarannya dilakukan secara hati-hati. Penggunaan minyak bekisting juga membantu mencegah beton menempel pada permukaan multipleks.
Selain itu, jadwal pekerjaan memengaruhi jumlah set bekisting yang diperlukan. Apabila beberapa lantai dikerjakan dalam waktu yang berdekatan, kita mungkin memerlukan lebih dari satu set bekisting karena bekisting lantai sebelumnya belum dapat dibongkar.
Kesalahan Umum dalam Menghitung Bekisting
Kesalahan yang sering terjadi adalah menghitung seluruh luas permukaan beton tanpa memperhatikan sisi yang benar-benar membutuhkan bekisting. Bagian beton yang langsung bersentuhan dengan tanah, lantai kerja, atau beton lama mungkin tidak memerlukan bekisting.
Kesalahan lainnya adalah tidak mengubah satuan sentimeter menjadi meter. Sebagai contoh, ukuran 20 cm harus ditulis sebagai 0,20 meter. Jika angka 20 langsung digunakan, hasil perhitungan menjadi terlalu besar.
Kita juga tidak boleh menghitung sisi yang sama dua kali, terutama pada pertemuan antara balok, kolom, dan pelat. Perhitungan harus mengikuti metode pengukuran yang konsisten.
Bukaan pada pelat atau dinding juga perlu diperhatikan. Luas void, pintu, dan jendela harus dikurangi apabila ukurannya cukup besar. Namun, bidang sisi di sekitar bukaan tetap dapat menjadi bagian pekerjaan bekisting.
Tips Agar Perhitungan Lebih Akurat
Pertama, pelajari gambar denah, potongan, dan detail struktur secara bersamaan. Denah menunjukkan panjang dan jumlah elemen, sedangkan gambar potongan menunjukkan tinggi, lebar, serta hubungan antarstruktur.
Kedua, kelompokkan elemen berdasarkan ukuran. Kolom berukuran 20 × 20 cm sebaiknya dihitung terpisah dari kolom berukuran 20 × 30 cm. Cara ini memudahkan pemeriksaan dan mengurangi risiko kesalahan.
Ketiga, buat tabel perhitungan yang berisi nama elemen, jumlah, panjang, lebar, tinggi, jumlah sisi, luas satu elemen, dan luas total. Tabel dapat dibuat menggunakan aplikasi spreadsheet agar rumus dapat dihitung secara otomatis.
Keempat, tambahkan faktor kehilangan material secara wajar. Jangan menggunakan faktor terlalu besar tanpa alasan karena dapat meningkatkan anggaran secara tidak realistis.
Kelima, bedakan antara luas pekerjaan bekisting dan jumlah material yang harus dibeli. Luas pekerjaan dinyatakan dalam m², sedangkan pembelian material dapat dinyatakan dalam lembar, batang, atau meter panjang.
Kesimpulan
Cara menghitung volume bekisting pada dasarnya dilakukan dengan menghitung luas seluruh permukaan beton yang membutuhkan cetakan. Meskipun disebut volume, satuan pekerjaan bekisting adalah meter persegi atau m².
Setiap elemen struktur memiliki cara perhitungan yang berbeda. Bekisting kolom dihitung dari keliling kolom dikalikan tinggi, bekisting balok dan sloof dihitung dari dua sisi samping serta sisi bawah, sedangkan bekisting pelat dihitung berdasarkan luas bagian bawah pelat. Untuk pondasi, dinding, dan tangga, jumlah sisi yang benar-benar menggunakan bekisting harus diperiksa berdasarkan gambar serta metode pelaksanaan.
Perhitungan yang teliti membantu kita menentukan kebutuhan material, tenaga kerja, dan biaya secara lebih akurat. Dengan memisahkan setiap elemen struktur, menggunakan satuan yang konsisten, serta memperhatikan bagian yang tidak membutuhkan bekisting, risiko kekurangan maupun pemborosan material dapat diminimalkan. Hasil perhitungan tersebut selanjutnya dapat digunakan sebagai dasar penyusunan rencana anggaran biaya dan pengendalian pekerjaan konstruksi di lapangan.
