Menghitung luas tanah merupakan keterampilan dasar yang penting bagi siapa saja, baik pemilik rumah, calon pembeli properti, petani, pengembang, maupun pelaku investasi. Dengan mengetahui luas tanah secara tepat, Anda dapat menentukan nilai jual, menghitung kebutuhan material pembangunan, mengurus dokumen pertanahan, hingga menghindari sengketa batas lahan.
Sayangnya, masih banyak orang yang menganggap menghitung luas tanah adalah pekerjaan yang rumit dan hanya bisa dilakukan oleh petugas ukur profesional. Padahal, jika bentuk tanah sederhana, perhitungannya dapat dilakukan sendiri menggunakan rumus matematika dasar dan alat ukur sederhana seperti meteran.
Di era digital saat ini, menghitung luas tanah juga semakin mudah berkat bantuan aplikasi pengukuran, peta digital, dan teknologi GPS. Meski demikian, memahami cara menghitung secara manual tetap menjadi kemampuan yang sangat berguna. Dengan begitu, Anda dapat memverifikasi hasil pengukuran, memahami data pada sertifikat tanah, serta memastikan informasi yang diperoleh benar dan sesuai kondisi di lapangan.
Artikel ini akan membahas secara lengkap mulai dari pengertian luas tanah, satuan yang digunakan di Indonesia, rumus-rumus dasar, contoh perhitungan berbagai bentuk bidang tanah, hingga tips agar hasil pengukuran lebih akurat. Semua penjelasan disajikan menggunakan bahasa yang sederhana sehingga mudah dipahami oleh siapa pun.
Apa Itu Luas Tanah?
Luas tanah adalah ukuran keseluruhan permukaan suatu bidang tanah yang dinyatakan dalam satuan luas tertentu. Di Indonesia, satuan yang paling umum digunakan adalah meter persegi (m²), meskipun dalam praktik pertanian dan perkebunan sering digunakan satuan hektare (ha).
Sebagai contoh:
- Sebidang tanah dengan ukuran 10 meter × 15 meter memiliki luas 150 m².
- Tanah seluas 1.000 m² setara dengan 0,1 hektare.
- Tanah seluas 10.000 m² sama dengan 1 hektare.
Mengetahui luas tanah sangat penting karena hampir seluruh aktivitas yang berkaitan dengan properti menggunakan data luas sebagai dasar perhitungan. Misalnya:
- Menentukan harga jual tanah.
- Mengurus sertifikat tanah.
- Menghitung Pajak Bumi dan Bangunan (PBB).
- Menghitung kebutuhan material bangunan.
- Merancang tata letak bangunan.
- Menentukan batas kepemilikan lahan.
Tanpa mengetahui luas yang sebenarnya, berbagai keputusan terkait properti dapat menjadi kurang akurat dan berpotensi menimbulkan kerugian.
Mengapa Menghitung Luas Tanah Itu Penting?
Banyak orang baru menyadari pentingnya menghitung luas tanah ketika akan membeli atau menjual lahan. Padahal, manfaatnya jauh lebih luas daripada itu.
1. Menentukan Harga Tanah
Harga tanah hampir selalu dihitung berdasarkan luas.
Misalnya:
- Harga tanah Rp2.500.000 per meter persegi.
- Luas tanah 180 m².
Maka:
180 × Rp2.500.000 = Rp450.000.000
Kesalahan pengukuran hanya beberapa meter saja dapat menyebabkan selisih harga hingga puluhan juta rupiah.
2. Menghindari Sengketa Batas Tanah
Salah satu penyebab sengketa lahan adalah perbedaan persepsi mengenai batas kepemilikan. Dengan mengetahui ukuran yang benar, batas tanah dapat ditentukan secara lebih jelas sehingga meminimalkan potensi konflik.
3. Membantu Perencanaan Bangunan
Sebelum membangun rumah, gudang, ruko, atau bangunan lainnya, Anda perlu mengetahui luas lahan agar dapat menentukan:
- luas bangunan,
- posisi taman,
- area parkir,
- saluran drainase,
- ruang terbuka.
Perencanaan yang baik akan menghasilkan bangunan yang lebih nyaman dan sesuai dengan aturan tata ruang.
4. Mempermudah Pengurusan Dokumen
Berbagai dokumen pertanahan, seperti sertifikat hak milik, akta jual beli, dan dokumen perizinan bangunan, mencantumkan informasi mengenai luas tanah. Pengukuran yang akurat akan memperlancar proses administrasi.
5. Menghitung Pajak
Besarnya Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) dipengaruhi oleh luas tanah. Oleh karena itu, data yang akurat sangat diperlukan agar nilai pajak sesuai dengan kondisi sebenarnya.
Satuan Luas Tanah yang Digunakan di Indonesia
Sebelum mempelajari rumus perhitungan, Anda perlu memahami satuan luas yang umum digunakan.
Meter Persegi (m²)
Meter persegi merupakan satuan standar yang paling banyak digunakan dalam transaksi properti.
Contoh:
- 36 m²
- 72 m²
- 120 m²
- 250 m²
Sebagian besar sertifikat tanah di Indonesia menggunakan satuan ini.
Are
Satuan are masih sering digunakan pada lahan pertanian.
Konversinya:
1 are = 100 m²
Contoh:
5 are = 500 m²
10 are = 1.000 m²
Hektare (ha)
Hektare digunakan untuk lahan yang luas, seperti perkebunan, sawah, atau kawasan industri.
Konversinya:
1 hektare = 10.000 m²
Contoh:
2 hektare = 20.000 m²
5 hektare = 50.000 m²
Kilometer Persegi (km²)
Satuan ini biasanya digunakan untuk wilayah yang sangat luas, misalnya luas desa, kecamatan, atau kota.
Konversinya:
1 km² = 1.000.000 m²
Tabel Konversi Luas Tanah
| Satuan | Nilai |
|---|---|
| 1 m² | 1 meter persegi |
| 1 are | 100 m² |
| 10 are | 1.000 m² |
| 1 hektare | 10.000 m² |
| 1 km² | 1.000.000 m² |
Memahami konversi ini akan memudahkan Anda saat membaca sertifikat tanah atau melakukan transaksi jual beli.
Rumus Dasar Menghitung Luas Tanah
Pada dasarnya, rumus menghitung luas tanah bergantung pada bentuk bidang tanah tersebut.
Berikut beberapa rumus yang paling sering digunakan.
1. Persegi
Rumus:
Luas = sisi × sisi
Contoh:
Panjang sisi = 20 meter
Luas = 20 × 20
= 400 m²
2. Persegi Panjang
Rumus:
Luas = panjang × lebar
Contoh:
Panjang = 25 meter
Lebar = 12 meter
Luas = 25 × 12
= 300 m²
Ini merupakan bentuk tanah yang paling umum dijumpai pada kawasan perumahan.
3. Segitiga
Rumus:
Luas = ½ × alas × tinggi
Contoh:
Alas = 10 meter
Tinggi = 8 meter
Luas = ½ × 10 × 8
= 40 m²
4. Trapesium
Rumus:
Luas = ½ × (jumlah sisi sejajar) × tinggi
Contoh:
Sisi atas = 12 meter
Sisi bawah = 18 meter
Tinggi = 10 meter
Luas = ½ × (12 + 18) × 10
= 150 m²
Cara Mengukur Tanah Secara Manual
Mengukur tanah sebenarnya tidak terlalu sulit apabila bentuknya sederhana.
Langkah pertama adalah menyiapkan alat yang diperlukan.
Peralatan yang umum digunakan antara lain:
- Meteran gulung.
- Patok kayu.
- Tali.
- Buku catatan.
- Pensil.
- Kalkulator.
Setelah alat siap, lakukan langkah berikut.
1. Tentukan Titik Sudut
Pasang patok pada setiap sudut tanah agar batasnya terlihat jelas.
2. Ukur Panjang
Tarik meteran dari satu ujung ke ujung lainnya secara lurus.
Catat hasilnya.
3. Ukur Lebar
Lakukan pengukuran pada sisi yang tegak lurus terhadap panjang.
4. Gambar Sketsa
Buat gambar sederhana sesuai bentuk tanah.
Sketsa akan sangat membantu apabila tanah memiliki banyak sisi.
5. Gunakan Rumus yang Tepat
Sesuaikan rumus dengan bentuk bidang tanah.
Apabila bentuk tanah tidak beraturan, bidang tersebut dapat dibagi menjadi beberapa bangun sederhana seperti persegi panjang, segitiga, atau trapesium. Setelah luas masing-masing bagian dihitung, hasilnya dijumlahkan untuk memperoleh total luas tanah.
Kesalahan yang Sering Dilakukan Saat Mengukur Tanah
Meskipun terlihat sederhana, pengukuran tanah sering menghasilkan data yang kurang akurat karena beberapa kesalahan berikut:
- Meteran tidak ditarik lurus sehingga hasil pengukuran lebih pendek atau lebih panjang.
- Pengukuran dilakukan pada permukaan tanah yang miring tanpa memperhitungkan proyeksi horizontal.
- Salah mencatat hasil pengukuran.
- Menggunakan rumus yang tidak sesuai dengan bentuk bidang tanah.
- Tidak memeriksa kembali hasil pengukuran sebelum menghitung luas.
Menghindari kesalahan-kesalahan tersebut akan membantu menghasilkan data yang lebih akurat dan dapat dipertanggungjawabkan.
Cara Menghitung Luas Tanah Berbentuk Persegi
Tanah berbentuk persegi merupakan bentuk yang paling mudah dihitung karena seluruh sisinya memiliki panjang yang sama. Meskipun bentuk ini tidak terlalu sering ditemukan pada lahan perkebunan atau persawahan, beberapa kavling perumahan dan lahan komersial menggunakan desain persegi agar lebih efisien.
Rumus Luas Persegi
Luas = Sisi × Sisi
Misalnya, sebuah tanah memiliki panjang sisi 18 meter.
Perhitungannya adalah:
18 × 18 = 324 m²
Artinya, luas tanah tersebut adalah 324 meter persegi.
Contoh Kasus
Pak Andi memiliki sebidang tanah berbentuk persegi dengan panjang setiap sisi 25 meter.
Perhitungan:
25 × 25 = 625 m²
Jika harga tanah di lokasi tersebut adalah Rp4.000.000 per meter persegi, maka nilai tanahnya menjadi:
625 × Rp4.000.000 = Rp2.500.000.000
Contoh sederhana ini menunjukkan bahwa mengetahui luas tanah sangat membantu dalam menghitung nilai aset secara cepat.
Cara Menghitung Luas Tanah Berbentuk Persegi Panjang
Bentuk persegi panjang merupakan bentuk tanah yang paling banyak dijumpai di kawasan perumahan maupun perkantoran.
Rumus
Luas = Panjang × Lebar
Contoh 1
Panjang = 20 meter
Lebar = 15 meter
Maka:
20 × 15 = 300 m²
Contoh 2
Ukuran tanah:
- Panjang = 12 meter
- Lebar = 30 meter
Perhitungan:
12 × 30 = 360 m²
Perhitungan ini juga digunakan oleh banyak pengembang ketika menawarkan kavling tanah kepada calon pembeli.
Cara Menghitung Luas Tanah Berbentuk Segitiga
Beberapa bidang tanah memiliki salah satu sisi yang menyempit sehingga membentuk segitiga.
Rumus
Luas = ½ × Alas × Tinggi
Contoh
Alas = 16 meter
Tinggi = 12 meter
Perhitungan:
½ × 16 × 12
= 96 m²
Pastikan tinggi yang digunakan adalah garis yang tegak lurus terhadap alas, bukan panjang sisi miring.
Cara Menghitung Luas Tanah Berbentuk Trapesium
Trapesium memiliki dua sisi sejajar dengan panjang yang berbeda.
Rumus
Luas = ½ × (Sisi Atas + Sisi Bawah) × Tinggi
Contoh
Sisi atas = 14 meter
Sisi bawah = 20 meter
Tinggi = 10 meter
Perhitungan:
½ × (14 + 20) × 10
½ × 34 × 10
= 170 m²
Bentuk seperti ini sering ditemukan pada tanah yang berada di tikungan jalan.
Cara Menghitung Luas Tanah Berbentuk Tidak Beraturan
Tidak semua bidang tanah memiliki bentuk geometris yang sempurna. Bahkan, sebagian besar tanah di pedesaan maupun perkotaan memiliki bentuk yang tidak beraturan.
Jangan khawatir, tanah seperti ini tetap bisa dihitung dengan cara yang relatif mudah.
Prinsipnya adalah:
Pisahkan bidang tanah menjadi beberapa bangun datar sederhana.
Bangun tersebut dapat berupa:
- Persegi
- Persegi panjang
- Segitiga
- Trapesium
Setelah itu, hitung luas masing-masing bagian, kemudian jumlahkan seluruh hasilnya.
Contoh Perhitungan Tanah Tidak Beraturan
Misalkan sebuah tanah terdiri dari dua bagian.
Bagian Pertama
Persegi panjang
Panjang = 20 meter
Lebar = 15 meter
Luas:
20 × 15
= 300 m²
Bagian Kedua
Segitiga
Alas = 8 meter
Tinggi = 6 meter
Luas:
½ × 8 × 6
= 24 m²
Total luas tanah:
300 + 24
= 324 m²
Cara ini merupakan metode yang paling sering digunakan sebelum dilakukan pengukuran profesional menggunakan alat survei.
Cara Menghitung Luas Tanah dari Sertifikat
Banyak orang mengira mereka harus mengukur ulang tanah untuk mengetahui luasnya. Padahal, informasi luas biasanya sudah tercantum dalam sertifikat.
Beberapa informasi yang dapat ditemukan antara lain:
- Luas tanah
- Nomor bidang
- Batas utara
- Batas selatan
- Batas timur
- Batas barat
- Gambar situasi
- Peta bidang
Namun demikian, pengukuran ulang tetap diperlukan apabila:
- Sertifikat sudah sangat lama.
- Terjadi perubahan batas tanah.
- Ada pemecahan bidang.
- Akan dilakukan pembangunan besar.
- Terjadi sengketa kepemilikan.
Cara Mengukur Tanah Menggunakan Meteran
Untuk tanah yang tidak terlalu luas, meteran gulung sudah cukup membantu.
Langkah-langkahnya sebagai berikut:
1. Tentukan Sudut Awal
Pasang patok pada setiap sudut tanah.
2. Ukur Seluruh Sisi
Catat seluruh panjang sisi secara berurutan.
3. Buat Sketsa
Tidak perlu sempurna.
Yang penting seluruh sisi tergambar sesuai urutan.
4. Beri Nomor Setiap Titik
Misalnya:
A
B
C
D
E
Hal ini akan mempermudah proses perhitungan.
5. Hitung Luas
Gunakan rumus yang sesuai dengan bentuk masing-masing bagian.
Cara Mengukur Tanah Menggunakan GPS
Saat ini banyak orang menggunakan GPS karena lebih praktis.
Keunggulan GPS antara lain:
- Lebih cepat.
- Dapat mengetahui koordinat.
- Cocok untuk lahan luas.
- Data mudah disimpan.
- Dapat dihubungkan dengan peta digital.
Namun demikian, GPS pada smartphone memiliki tingkat akurasi yang berbeda-beda.
Untuk pengukuran yang membutuhkan ketelitian tinggi, biasanya digunakan GPS geodetik yang memiliki tingkat kesalahan sangat kecil.
Cara Menghitung Luas Tanah Menggunakan Google Maps
Google Maps juga dapat dimanfaatkan untuk memperkirakan luas tanah.
Caranya:
- Buka Google Maps.
- Cari lokasi tanah.
- Aktifkan tampilan satelit.
- Tandai setiap sudut bidang.
- Hubungkan seluruh titik.
- Sistem akan memperkirakan luas area.
Metode ini cocok digunakan untuk memperoleh gambaran awal. Namun, hasilnya tidak dapat dijadikan dasar hukum dalam transaksi atau sertifikasi karena tingkat akurasinya dipengaruhi oleh kualitas citra dan penandaan titik.
Aplikasi Penghitung Luas Tanah
Selain Google Maps, tersedia berbagai aplikasi yang dapat membantu proses pengukuran.
Beberapa fitur yang umumnya tersedia antara lain:
- Mengukur luas.
- Mengukur keliling.
- Menyimpan koordinat.
- Mengekspor hasil pengukuran.
- Menampilkan peta satelit.
- Menghitung jarak antar titik.
- Membuat riwayat pengukuran.
Aplikasi semacam ini sangat membantu bagi petani, kontraktor, surveyor, maupun agen properti yang sering melakukan pengukuran di lapangan.
Faktor yang Memengaruhi Akurasi Pengukuran
Hasil pengukuran dapat berbeda apabila dipengaruhi oleh beberapa faktor berikut:
1. Kondisi Medan
Tanah yang berbukit atau memiliki kemiringan memerlukan teknik pengukuran khusus agar hasilnya mencerminkan luas horizontal, bukan panjang permukaan tanah.
2. Ketelitian Pengukuran
Kesalahan beberapa sentimeter pada setiap sisi dapat menghasilkan selisih luas yang cukup besar, terutama pada lahan yang luas.
3. Alat yang Digunakan
Semakin presisi alat ukur, semakin akurat hasilnya. Meteran, laser distance meter, GPS geodetik, dan total station memiliki tingkat ketelitian yang berbeda.
4. Penentuan Titik Batas
Kesalahan menentukan posisi patok atau sudut tanah dapat menyebabkan hasil akhir tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya.
Contoh Soal Menghitung Luas Tanah Beserta Pembahasannya
Agar lebih mudah memahami cara menghitung luas tanah, berikut beberapa contoh soal yang sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari.
Contoh Soal 1: Tanah Berbentuk Persegi Panjang
Pak Budi memiliki tanah dengan ukuran:
- Panjang: 25 meter
- Lebar: 16 meter
Ditanyakan: Berapa luas tanah tersebut?
Penyelesaian
Rumus:
Luas = Panjang × Lebar
Luas = 25 × 16
Luas = 400 m²
Jadi, luas tanah Pak Budi adalah 400 meter persegi.
Contoh Soal 2: Tanah Berbentuk Persegi
Sebuah lahan memiliki panjang sisi 30 meter.
Penyelesaian
Luas = 30 × 30
= 900 m²
Contoh Soal 3: Tanah Berbentuk Segitiga
Diketahui:
- Alas = 14 meter
- Tinggi = 10 meter
Perhitungan:
½ × 14 × 10
= 70 m²
Contoh Soal 4: Tanah Berbentuk Trapesium
Data:
- Sisi atas = 18 meter
- Sisi bawah = 30 meter
- Tinggi = 15 meter
Perhitungan:
½ × (18 + 30) × 15
½ × 48 × 15
= 360 m²
Contoh Soal 5: Tanah Tidak Beraturan
Sebuah bidang tanah terdiri dari:
Bagian pertama:
Persegi panjang
20 × 12
= 240 m²
Bagian kedua:
Segitiga
½ × 10 × 8
= 40 m²
Total luas:
240 + 40
= 280 m²
Cara Menghitung Harga Tanah Berdasarkan Luas
Setelah mengetahui luas tanah, langkah berikutnya adalah menghitung nilai jualnya.
Rumus yang digunakan sangat sederhana.
Harga Tanah = Luas × Harga per Meter Persegi
Contoh 1
Luas tanah:
250 m²
Harga:
Rp3.000.000/m²
Perhitungan:
250 × Rp3.000.000
= Rp750.000.000
Contoh 2
Luas tanah:
480 m²
Harga:
Rp5.500.000/m²
Perhitungan:
480 × Rp5.500.000
= Rp2.640.000.000
Cara Menghitung Nilai Jual Sebagian Tanah
Kadang seseorang hanya ingin menjual sebagian lahannya.
Misalnya:
Luas tanah keseluruhan:
600 m²
Yang dijual:
150 m²
Harga:
Rp2.750.000/m²
Perhitungan:
150 × Rp2.750.000
= Rp412.500.000
Perhitungan ini juga sering digunakan saat melakukan pemecahan sertifikat tanah.
Cara Menghitung Kebutuhan Pagar Berdasarkan Luas Tanah
Selain luas, Anda juga perlu mengetahui keliling tanah jika ingin memasang pagar.
Misalnya:
Ukuran tanah:
20 × 15 meter
Keliling:
20 + 15 + 20 + 15
= 70 meter
Jika biaya pagar Rp850.000 per meter, maka:
70 × Rp850.000
= Rp59.500.000
Cara Menghitung Kebutuhan Rumput atau Paving
Luas tanah juga digunakan untuk menghitung kebutuhan material penutup permukaan.
Misalnya:
Luas halaman:
180 m²
Satu dus paving menutupi:
10 m²
Kebutuhan:
180 ÷ 10
= 18 dus
Tambahkan sekitar 5–10% sebagai cadangan untuk mengantisipasi pemotongan dan kerusakan.
Cara Menghitung Luas Bangunan yang Ideal
Tidak semua luas tanah boleh dibangun seluruhnya.
Pemerintah daerah biasanya menerapkan aturan seperti:
- Koefisien Dasar Bangunan (KDB)
- Koefisien Lantai Bangunan (KLB)
- Garis Sempadan Bangunan (GSB)
Sebagai contoh:
Luas tanah:
240 m²
KDB:
60%
Maka luas maksimal bangunan di lantai dasar adalah:
240 × 60%
= 144 m²
Sisa lahannya digunakan untuk halaman, taman, resapan air, atau area terbuka sesuai ketentuan yang berlaku.
Kesalahan yang Sering Terjadi Saat Menghitung Luas Tanah
Walaupun rumusnya sederhana, kesalahan dalam pengukuran atau perhitungan masih sering terjadi.
1. Salah Menggunakan Rumus
Contohnya, menggunakan rumus persegi panjang untuk tanah yang sebenarnya berbentuk trapesium.
Kesalahan ini dapat menghasilkan perbedaan luas yang cukup besar.
2. Tidak Mengukur Semua Sisi
Sebagian orang hanya mengukur panjang dan lebar tanpa memastikan bentuk tanah benar-benar siku.
Padahal, sedikit perbedaan sudut saja dapat memengaruhi hasil perhitungan.
3. Tidak Membuat Sketsa
Tanpa sketsa, hasil pengukuran lebih mudah tertukar atau salah dicatat.
Sketsa sederhana sangat membantu, terutama pada tanah dengan banyak sudut.
4. Menggunakan Meteran yang Kurang Akurat
Meteran yang sudah aus, melar, atau rusak dapat menghasilkan ukuran yang tidak presisi.
Pastikan alat ukur dalam kondisi baik sebelum digunakan.
5. Mengabaikan Kemiringan Tanah
Pada lahan berbukit, panjang permukaan tanah tidak sama dengan jarak horizontal.
Untuk kondisi seperti ini, diperlukan metode pengukuran khusus agar luas yang diperoleh sesuai dengan kondisi sebenarnya.
Tips Mengukur Luas Tanah dengan Akurat
Berikut beberapa tips yang dapat membantu memperoleh hasil pengukuran yang lebih akurat.
Gunakan Alat yang Sesuai
Untuk lahan kecil, meteran gulung biasanya sudah memadai.
Sedangkan untuk lahan yang luas atau kompleks, pertimbangkan menggunakan alat seperti laser distance meter, GPS geodetik, atau total station.
Lakukan Pengukuran Lebih dari Satu Kali
Ulangi pengukuran minimal dua kali.
Jika hasilnya berbeda, lakukan pengukuran ulang hingga mendapatkan data yang konsisten.
Libatkan Orang Lain
Pengukuran akan lebih mudah dan akurat jika dilakukan oleh dua orang atau lebih, terutama saat menarik meteran pada jarak yang panjang.
Periksa Patok Batas
Pastikan titik awal dan titik akhir pengukuran benar-benar berada pada batas tanah yang sah.
Jika patok hilang atau bergeser, sebaiknya lakukan pengecekan terlebih dahulu sebelum mengukur.
Dokumentasikan Hasil
Simpan hasil pengukuran dalam bentuk catatan, foto, atau sketsa.
Dokumentasi ini akan sangat berguna jika suatu saat diperlukan untuk transaksi, pembangunan, atau penyelesaian sengketa.
Kapan Sebaiknya Menggunakan Jasa Surveyor?
Untuk tanah yang bentuknya rumit, memiliki luas yang besar, atau akan digunakan dalam transaksi bernilai tinggi, menggunakan jasa surveyor profesional adalah pilihan yang tepat.
Beberapa kondisi yang memerlukan bantuan surveyor antara lain:
- Pembelian lahan dalam jumlah besar.
- Pemecahan atau penggabungan bidang tanah.
- Pengurusan sertifikat baru.
- Penyelesaian sengketa batas tanah.
- Perencanaan pembangunan skala besar.
Surveyor menggunakan peralatan khusus dan metode pengukuran yang lebih presisi sehingga hasilnya dapat dipertanggungjawabkan secara teknis maupun administratif.